Zaman telah berubah teman, tapi... apakah zaman akan merubah mu, merubah
langkah mu, merubah tujuan hidup mu?? Aku, tidak. Hari ini aku meratapi
nasib semua orang, bagaimana mungkin kita lupa kepada sesuatu yang maha
segalanya, sedangkan kita selalu mendapatkan karunia, dan nikmatnya,
mampukah kita sadar akan hal itu. Bagai mana kalau bumi berhenti
berputar, bagai mana kalau matahari tak lagi bersinar, bagai mana kalau
udara tak lagi dapat di hirup. Bagaimana? Apa yang dapat kita lakukan?
Entahlah, tidak ada satu orangpun yang tahu.
Pagi begitu cerah, secerah yang selalu diberikan oleh Allah, aku tinggal
disebuah desa, desa yang cukup asri dan makmur, apa kalian tahu satu
hal, di desaku tidak ada orang yang termasuk dalam golongan benar-benar
miskin, karena kami hidup makmur dengan hasil pertanian dan pertenakan
yang kami miliki. Hidup adalah perjuangan, dan itulah yang aku pelajari
disini.
Tapi.., satu hal yang kami lupa , bagaimana cara bersyukur, entah sejak
kapan rasa syukur itu telah hilang dari hati kami semua, aku ingat satu
hari, dikala aku masih kelas tiga SD, itu terakhir kalinya aku sholat
idul fitri di mesjid desaku, terfikir oleh ku, berapa lama kami telah
melupakan kewajiban kami, dan bagaimana kami bisa lupa akan semua itu.
Mesjid itu kami bangun sudah sejak lama, mungkin sekitar 12 tahun yang
lalu, mesjid yang awalnya benar-benar kami cintai, kami lindungi dan
kami rawat, tetapi sekarang..
Mesjid itu memang tidak terlalu besar, tetapi cukup untuk menampung
hampir setengah dari warga desa. Lihatlah di sekeliling mesjid, banyak
dedaunan yang berserakan, pasirpun memenuhi lantai mesjid itu, sarang
laba-laba hampir menutupi setiap jengkal plafon yang ada, halaman mesjid
juga di tumbuhi oleh rerumputan yang hampir menutupi semua tanah yang
ada, begitulah kondisi mesjid itu, tak pernah terbayangkan olehku sama
sekali.
Aku adalah anak yatim piatu, ayah dan ibu ku telah meninggal sejak
umurku 4 tahun mereka meninggal karena kecelakaan lalulintas, semenjak
itu aku tinggal dirumah bibi ku, ayah dan ibu pernah berpesan agar kelak
aku disekolahkan dipasentren, kedua orang tua ku berharap agar aku
menjadi anak yang soleha, dan aku selalu berusaha menjadi seperti itu
sampai saat ini.
Masa liburku, ku habiskan tinggal dirumah bibi ku, di kampung halaman
ayah dan ibu, dan juga bisa dibilang di kampung halaman ku sendiri.
Hari ini seperti biasa, aku berjalan-jalan pagi di sekitar desa, rindu
akan suasana disini, suasana yang sudah lama tidak aku rasakan,
langkahku tiba-tiba terhenti, aku melihat bangunan yang tak pernah asing
dimataku, walau bentuknya semakin menua. Aku melihat jam di tangan
kanan ku, jam itu menunjukan jam 10 pagi, masih sempat, fikir ku.
“bu, apa ibu mau membatu saya membersihkan mesjid??” tanya ku kepada seorang ibu-ibu yang sedang memandikan anaknya.
“aduh, maaf neng!! Saya sedang memandikan anak saya!! ” jawab sang ibu itu
“ kalau begitu, bagaimana setelah memandikan anak ibu ” tanya ku lagi
“maaf neng, tapi.. setelah ibu memandikan anak ibu, ibu akan memasak dan
mencuci ” jawab sang ibu dengan alasan yang sangat banyak
“oh..!! tidak apa buk, tapi.. bolehkah saya meminjam sapu dan peralatan kebersihan” tanya ku dengan lembut
“em.., tentu neng !!”
Alasan pasti selalu ada, kegiatan memang menjadi sesuatu hal yang wajib,
tetapi.. bagaimana caranya agar kita bisa membagi waktu walau hanya
sebentar, satu yang membuat ku bertanya-tanya, bagaimana mungkin ibu itu
dan keluarganya tidak pernah mempunyai niat untuk membersihkan mesjid
itu, sedangkan mereka memanfaatkan sumur yang ada dimesjid untuk
keperluan sehari-hari mereka.
Aku menggambil alat pembersih itu, dan aku langsung segera membersihkan
mesjit dengan sangat cepat, aku berharap mesjid ini bisa digunakan untuk
sholat zuhur berjamaah.
Aku tahu ini sangat berat bagi ku, tapi.. aku mencoba, walau terasa
lelah dan capek, 2 jam sudah aku berkutik dengan bangunan tersebut, dan
sekarang semuanya cukup bersih, setidaknya, lebih bersih dari yang
semula.
Aku pulang kerumah, dan membersihkan diriku, hendak bersiap sholat
berjamaah di mesjit desa. Jam 11.30 wib, aku tiba di mesjit, ketika
masuk mesjit aku langsung membaca ayat suci alquran, agar kemudahan
selalu berada di didekat kami semua, 30 menit lagi saatnya azan zuhur,
baru aku sadar, tidak ada seorang muazin disini, aku bertanya didalam
hati, siapa yang akan menjadi muazin, tidak ada satu orang pun yang
terlitas difikiran ku, aku seegera keluar mencari seorang laki-laki,
disana aku melihat seorang bapak-bapak yang kelihatan terburu-buru
“maaf pak, apa bapak bisa azan sebentar, sekarang hampir masuk waktu
zuhur pak, dan tidak ada seorang muazin disini ” kataku menanyakan
kepada bapak itu
“maaf nak !! Saya harus buru-buru ke pabrik, ada pertemuan disana, cari
orang lain saja ya nak” kata bapak itu menjelaskan, kemudian ia berlalu
meninggalkan aku sendirian
Aku melihat lagi 2 orang bapak-bapak, mereka sedang berjalan hendak
pergi kesuatu tempat, baju mereka sangat bagus, dan sepertinya mereka
ingin pergi kesuatu pertemuan atau kesebuwah acara
“bapak, apa diantara bapak ada yang mau azan, karena sebentar lagi hampir memasuki waktu sholat zuhur ”
“maaf nak, bapak harus segera ke pesta pernikahan, bapak sebagai saksi
disana, cari yang lain aja ya !!”, kedua bapak itu juga pergi
meninggalkan ku
Apa yang aku lakukan sekarang, sedang waktu yang tersisa hanya 10 menit
lagi, aku melihat sekelompok mahasiswa, aku mendekati mereka dan
bertanya
“maaf, apa ada salah satu dari kalian yang bisa azan di mesjit, waktu sholat akan segera tiba”
salah satu laki-laki menjawab, “ maaf dik, kami harus segera pergi
belajar kelompok, besok kami akan ujian, maaf ya” mereka juga pergi
meninggalkan ku.
Aku tahu satu hal, sudah tidak ada waktu yang tersisa lagi, waktu sholat
hanya tinggal 5 menit, aku berjalan dengan lemah menuju mesjit, “apa
yang terjadi disini”, aku bertanya dalam hati.
Aku terduduk di dalam mesjid dan bersujut, berkata dalam hati “ya...
Allah, engkau maha segalanya, kenapa kau jadikan hambamu menjadi seperti
ini? Apa yang salah pada kami ya Allah, apa yang salah sehingga kami
harus menerima hukuman mu, ya.. Allah, jangan pernah kau hukum kami
semua dengan hukuman ini, kuatkanlah hati kami ya.. Allah, kuatkanlah
iman kami ya.. Allah, jangan pernah kau palingkan kami dari petunjuk mu ”
aku benar-benar merasa kacau, apa yang sedang terjadi, kenapa tidak ada
satupun yang mau mengingat Allah, kenapa? Apa ini hukuman yang paling
mengerikan yang Allah berikan, hukuman yang membuat kami lupa akan dia,
lupa akan kebesarannya.
“Allah...hu..ak..bar allah... hu..ak.. bar”
Suara itu mengagetkan ku, Allah hu akbar ucapku takjup, aku melihat
sosok itu, ternyata dia adalah seorang ustad, entah dari mana ustad itu
datang. “Engkau maha pengasih lagi maha penyayang ya.. Allah” ucapku
dalam hati
Tiba-tiba aku melihat keluar mesjid, subhannallah ucapku penuh takjub,
masyarakat desa datang, mereka datang untuk sholat berjamaah, mereka
semua telah datang. Terimakasih ya..Allah, terimakasih atas rahmat mu.
NB : yang paling penting dari semuanya adalah ketika hati mu bergetar disaat mendengar nama Allah.